Kegiatan ini, dimulai dari survei tempat. Survei dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2010 oleh Nurul, Naufal, Galih, Dimas, dan Bu Emi. Dengan mengendarai sepeda, Bu Emi mengantarkan keempat remaja tersebut ke tempat tujuan yang mana mereka mengendarai sepeda motor. Target utama mereka adalah ke sungai. Setelah sampai di lokasi, mereka berempat langsung terjun ke sungai. Setelah itu ke timur (keluar dari sungai) untuk mencari jalan. Dengan bertanya-tanya warga sekitar, lalu mereka putuskan untuk menjadikan daerah sekitar pondok pesantren Raudhatul Muttaqin sebagai rute Outbond.
Keluar dari daerah Ponpes, mereka mencari jalan sambil berlari dikarenakan jarak yang lumayan jauh. Sampai di pertigaan, mereka belok kekiri. Nah, disitulah mereka menemukan kandang ayam yang mereka jadikan sebagai pos 2. Setelah itu, mereka kembali ke tempat dimana mereka memarkirkan sepeda motor.
Langkah kedua adalah rapat. Rapat dilaksanakan malam hari (ba'da isya') pd hari itu juga. Sang ketua (Naufal) menerangkan rencana rute outbond (peta) yang digambar oleh Galih kepada para Teefasquers.
Rapat tidak hanya dilakukan 1 kali, tetapi 4 kali rapat. Salah satunya dilakukan di rumah Riris yang pada saat itu baru pulang dari Rumah Sakit karena selesai operasi.(23 Desember 2010)
Hari H telah tiba. Outbond telah siap dengan sistem kepanitiaan
- Naufal dan Nifa menjaga pos utama;
- Nurul, Adji, dan Galih menjadi penunggu di pos 1 (sungai);
- Kinan dan Putri bertanggung jawabatas pos 2 (kandang ayam);
- Fatma dan Shasha sebagai penilai atas kekompakan peserta;
- Lily dan Nana menilai kesopanan peserta;
Permainan Outbond di akhiri dengan pembagian hadiah. Bagi yang nilainya tertinggi yaitu jumlah nilai dari pos 1 sampai pos 3, kelompok itu akan menjadi pemenang. Untuk kelompok putra dimenangkan oleh kelompok 4 dan untuk kelompok putri dimenangkan oleh regu A.
Setelah itu adalah evaluasi oleh para Teefasquers. Mulai dari pos utama kesalahannya ialah jarak keberangkatan yang terlalu dekat (3 menit) sehingga mereka berkumpul di pos 1.
Yang kedua adalah kekurangan perkap, yaitu terjadi kesalahan komunikasi antara rencana dengan pelaksanaannya. Rencananya ialah setiap peserta diberi 3 plastik tetapi pelaksanaannya diberi 5 plastik.
Ketiga, kelompok 2 menunggu kelompok 1 untuk dijadikan lawan di pos 2 terlalu lama. Hal ini disebabkan kekurangan plastik di pos 1 sehingga mereka harus menunggu dibelikan plastik dulu oleh Pak Bos (Naufal).
Keempat, kelompok A dan B menunggu (panitia) lumayan lama di pos 3, penyebabnya sama seperti evaluasi ketiga sehingga panitia harus menunggu pesertanya sampai tuntas.
Kelima, peserta terlalu asyik bermain di sungai. Pada saat Naufal membelikan plastik, penunggu pos 1 mengajak para peserta untuk perang-perangan dari sisa balon yang ada. Saat Naufal sudah datang dengan membawa plastik, mereka masih tetap ingin perang-perangan walaupun sudah dihentikan oleh panitia. Nampaknya, ini bukan kesalahan pesertanya tapi kesalahan penunggunya juga. Nah, ini merupakan sebuah pelajaran "kalau sungai sebaiknya dijadikan pos terakhir saja.
Lalu ada usulan dari beberapa (1-2-3) orangtua bahwa jaraknya terlalu jauh untuk anak kelas 1 SD, hal itu akan dipertimbangkan.
..................................................................................................................................................
Terimakasih kepada semua pihak yang terlibat :
- Ta'mir Masjid Al-Ikhlas
- TPA Masjid Al-Ikhlas
- Bu Rini
- Bu Emi
- Bu Yuli
- Bu Budi
- Kepada semua panitia
- Kinan
- Adji
- Nurul
- Lily
- Nana
- Riris
- Naufal
- Putri
- Wildan
- Cherryl
- Galih
- Dimas
- Fatma
- Lukman
- Shasha
- Nifa
9. Kepada semuanya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu
.